Aviza Zafarani (bagian 3)

Baru saja berusaha tidur, ayah terbangun oleh suara suster. "Keluarga Ibu Zumaroh," kata suster itu pada ayah. "Silakan masuk ruang bayi."

Ayah bergegas masuk dengan muka yang lebih cerah, ya, lebih cerah ketimbang lima menit lalu saat matanya sayu dan wajahnya kusam, macam gelandangan di rumah sakit Tuban. Ia dipenuhi harapan besar bahwa aku akan boleh pulang. Ayah mendekatiku. Dan tiba-tiba muka cerah itu kembali muram.

"Bayi yang terlahir prematur selalu memiliki resiko, Bapak," kata suster, "jadi Bapak harus sabar. Bapak harus siap dan ikhlas terhadap apapun keadaan anak Bapak, bahkan seandainya sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Kesehatan bayi seperti ini tidak stabil."

"Bagaimana bisa begini, suster? Bukankah tadinya anak kami baik-baik saja? Kenapa sekarang tubuhnya membiru dan lemah begini, suster?"

"Beginilah bayi prematur, Pak," jawab suster itu. "Sewaktu-waktu kesehatannya bisa menurun. Bapak berdoa saja, ya. Silakan bapak tunggu di luar. Kami akan memanggil dokter untuk menangani anak bapak."

Ayah keluar dari ruanganku. Ia memberitahu nenek bahwa sekujur badanku telah membiru, dan nenek pun terkejut. Mukanya tampak lesu.

"Yang sabar sajalah, Jhon. Kita berdoa," kata nenek.

Kesedihan ayah begitu mendalam. Meskipun ia berusaha menampilkan wajah tenang dan tegar, namun hatinya kacau dan hancur. Air matanya perlahan menetes, menelusuri sudut matanya dan merayap ke pipinya. Bersama nenek, ia tetap menungguiku dengan sabar.

Namun ayah tidak ingin membagi kesedihan ini pada ibu dan keluarga di rumah. Ayah sengaja tidak memberitahu mereka bahwa aku dalam keadaan kritis. Mengingat ibu baru saja pulang, ayah takut jika kabar ini akan menjatuhkan pikirannya dan membuatnya sakit.

Adzan ashar telah terdengar. Secara bergantian, ayah dan nenek shalat di mushola kecil rumah sakit. Ayah duduk bersila dan berdoa agar aku dapat sehat dan memberinya senyum seperti yang bayi-bayi lainnya lakukan pada orang tuanya.

Andaikan saja aku bisa menyampaikannya, dalam keadaan seperti itu, aku ingin mengatakan pada ayah, "Sabarlah, Ayah. Semuanya telah diatur oleh Tuhan. Serahkanlah semua pada Allah. Apapun yang Allah kehendaki adalah yang terbaik untuk kita."

Selepas shalat dari mushola, ayah menemui nenek kembali, duduk bersamanya, mengalami gelisah kembali. Ayah begitu risau memikirkan keadaanku. Dan dengan suara yang pelan, ia baca beberapa ayat Al-Qur'an yang ia sanggup hafal. Ayah bukanlah orang yang penghafal banyak ayat dalam kitab suci, tapi ia meyakini bahwa Qur'an, apabila dibaca, akan mengobati jiwa yang gelisah. Dan ayah membutuhkan itu.

Sekitar pukul 5 sore, suster memanggil lagi. Keadaanku semakin kritis. Kulitku pucat dan mataku terpejam. Sebagian tubuhku kaku. Hanya jari kakiku yang dapat bergerak. Ayah tidak bisa berkata-kata. Air matanya keluar kembali.

Sebenarnya untuk beberapa urusan, ayah adalah pria yang tegar, tidak mengambil pusing segala persoalan. Tapi untuk kali ini ketegarannya runtuh. Aku bisa merasakan -- dari matanya -- betapa ia sangat terpuruk. Aku berusaha menenangkan ayah namun tak berdaya. Tapi ia seolah mengerti bahwa aku sedang mengatakan, "Sabar, Ayah. Jika aku ditakdirkan untuk hidup bersamamu, maka aku akan hidup. Namun jika Allah merencanakan hal yang lain, maka engkau ikhlaskanlah aku. Aku menyayangimu sepenuh jiwaku."

Suster menghampiri ayah. Kepada ayah yang telah berlinang air mata itu, ia katakan, "Bapak yang sabar, ya, jika sewaktu-waktu anak bapak dipanggil Allah. Sebab, kondisi anak bapak semakin memburuk. Dokter akan datang. Bapak bisa tunggu di luar dan jangan jauh-jauh agar kami dapat cepat mengabari bapak."

Di luar ruanganku, ayah bersandar pada pintu dan mengintip aku yang sedang ditangani dokter dan pekerja rumah sakit. Ayah tak berhenti berdoa. Ia berusaha menerima apapun keadaan yang akan terjadi, dan ia meyakinkan diri bahwa Allah menata segalanya.

Aku menjerit dari ruanganku. Ayah tersentak untuk melihat, namun ayah hanya boleh mengintip dari pintu. Hati ayah makin cemas tapi sekaligus lega karena mendengar tangisanku. Semangatnya hidup kembali.

Tangisanku berlangsung tiga kali, dan itu berasal dari rasa sakit yang entah bagaimana caranya aku alami. Ketika ayah mendengar jeritan ketigaku, perasaan lega dalam dirinya berubah jadi kekhawatiran. Ia seperti memahami bahwa aku telah kesakitan. Berderailah air mata ayah sambil ia menyandarkan badan.

"Sudahlah, Jhon. Sabar dan berdoa saja," kata nenek. "Jika anakmu ditakdirkan hidup, dia akan baik-baik saja.

Ambillah nasi goreng ini. Kamu belum makan."

"Ini bukan saat yang tepat untuk makan," pikir ayah. Tapi ia tetaplah menghargai apa yang nenek usahakan untuk dirinya dan untuk menenangkan hatinya.

Mata ayah masih memerah sembari ia masukkan beberapa sendok nasi ke mulutnya. Dalam hatinya, ia ingin sekali memarahi dirinya sendiri: "Bagaimana aku bisa bersenang-senang dan memuaskan perutku sementara anakku berbaring-baring dan memperjuangkan hidupnya?"

Ia tidak menghabiskan makanan itu dan meminum sebungkus kopi yang nenek belikan di depan rumah sakit.

Pukul 8 malam, ayah dan nenek telah menjamak sholat Isya dan Maghrib, dan mereka sekarang duduk menungguiku di luar.

Aku telah pasrah pada apa yang akan terjadi. Kalaupun aku harus pergi, aku harap ayah ikhlaskan aku.
Ibu, ikhlaskan aku juga, ibu. Mungkin aku tiada, tapi aku pergi ke surga. Barangkali ini jalan yg terbaik.
Ayah, Ibu, aku mencintaimu, tapi aku harus meninggalkan kalian. Dan maafkanlah aku karena tidak bisa memberi kebahagiaan, tak dapat berbagi senyum yang lucu, dan tak mampu memberikan tingkah yang menggemaskan dalam hari-harimu.

Pada pukul 9 malam, ketika ayah menahan gelisahnya dan berusaha menghidupkan harapannya, dokter menjumpainya dan berkata, "Bapak, maafkan kami. Kami tak bisa selamatkan anak bapak.

Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

BACA JUGA:

~ Senin, 10 September 2012 0 komentar

Aviza Zafarani (bagian 2)

Pagi menjelang. Ibuku keluar dari ruang perawatan, menemui ayah dan keluarga yang menungguiku di rumah sakit. Ibu bercakap bersama mereka dan mengajak ayah untuk menjenguk aku, memastikan kondisiku baik.

Namun di ruanganku, ibu dan ayah dilarang masuk sampai tiba jam berkunjung. Mereka kecewa dan berjalan keluar.

"Aku masuk ke kamarku dulu, mas," ibu kembali terbaring di ruang perawatannya, dengan menyimpan kekecewaan itu.

Ayah duduk bersama keluarga untuk sarapan. Pada pukul 11 siang, jam kunjungan telah dibuka, tapi hanya ibu yang boleh melihatku. Ibu di dalam bersama aku, bayi kecilnya. Ayah di luar bersama mereka, keluarga besarnya.

Sementara itu, suster memberitahu ayah bahwa ibu sudah bisa pulang, dan bahwa aku harus tetap ditahan. Keadaanku terlalu lemah untuk dirawat di kampung halaman.

Ayah juga dipanggil untuk mengurus Jaminan Persalinan (JAMPERSAL), sebuah layanan bagi ibu melahirkan yang biayanya dijamin oleh pemerintah. Ayah berjalan kaki mencari foto kopi, bertanya kesana-kemari, memasuki loket-loket di setiap sisi. Wajar saja, ayah pertama kali menangani hal tersebut, dan semua itu ayah selesaikan dengan lancar.

Pukul satu siang, ibu diperbolehkan pulang tapi tidak bersamaku. Mungkin ibu sedih karena keadaan ini, namun aku bahagia karena melihat ibu baik-baik saja, tanpa dirawat sepertiku.

Ibu sempatkan menjenguk aku, membelaiku. "Anakku yang cantik," kata ibu "yang sehat ya. Ibu mau pulang dulu."

Andai bisa kusampaikan, aku pasti katakan padanya bahwa aku ingin bersamanya, namun aku hanya dapat menggeliat. Aku sedang terlelap.

Kasihan ibu. Ia berkunjung ketika aku tertidur. Ia tidak tega untuk bangunkan aku. Ia ibu yang sangat baik, dan aku sangat mencintainya.

Ayah menunggu ibu di depan pintu, menyiapkan kepulangannya, dan mengantar hingga ibu naik mobil bersama keluarganya.

Kini aku ditemani ayah dan nenek saja. Mungkin jarak antara ruang mereka menunggu dan ruang di mana aku dirawat cukup jauh, tapi aku merasa dekat. Hatiku bersama mereka, bersama nenekku, bersama ayahku, bersama ibuku, bersama semua orang yang menyayangiku.

Ayah dan nenek bergiliran pergi ke mushola untuk sholat dzuhur.

"Jhon, kamu tidak ingin makan dulu?" nenek bertanya pada ayah begitu ia selesai shalat.

"Tidak, Mak." jawab ayah. "Aku belum lapar. Aku mau istirahat saja. Aku lebih butuh tidur ketimbang makan."

"Tapi kamu kan belum makan?"

"Tadi pagi aku makan sedikit nasi pecel," jawab ayah.

Jam telah menunjukkan pukul dua siang. Nenek masih memaksa ayah makan dan hampir membelikan nasi untuknya, tapi ayah menolak dan memutuskan untuk tidur -- bukan supaya badannya terbebas dari lelah, tapi supaya pikirannya terlepas dari penat. Ia tidur di lantai ruang tunggu, tanpa alas, tanpa bantal.

BACA JUGA:

~ Selasa, 28 Agustus 2012 0 komentar

Aviza Zafarani: Aku terlahir prematur dengan berat 150gram (bag. 1)

Aku dikandung ibuku penuh kasih sayang dan diharapkan lahir dalam sembilan bulan. Namun pada bulan kedelapan, aku sudah melihat dunia walau dalam beberapa jam.

Kamis, 23 Agustus 2012: Siang itu perut ibu sakit. Dan pada saat yang sama ayah sedang di luar kota, di Gresik, untuk sebuah keperluan. "Sabar dulu ya. Sebentar lagi pulang kok," tulis ayah setelah membaca SMS ibu.

Pukul empat sore, ayah tiba di rumah. Ia segera mandi dan shalat, dan ibu menawari sesuatu yang bisa kudengar dari dalam rahimnya. "Mas, makan dulu, ya," kata ibu.

"Ya, Bu. Sekalian buatkan kopi."

Menahan sakit di perutnya, ibu menyiapkan sepiring nasi dan secangkir kopi untuk ayah, menemaninya minum beberapa teguk, namun nyeri dalam perutnya tak kunjung sembuh.

"Nanti aku pijat punggung kamu setelah kita jamaah Maghrib ya, Bu." Adzan pun berkumandang dari masjid Nurul Huda. Ayah dan ibu shalat berjamaah.

Setelah selesai shalat dalam ruangan kecil yang mereka bagi berdua, ibu merasakan sakit yang bertambah, dan ayah bingung harus berbuat apa, tiada menduga jika aku akan lahir. "Ke tukang pijat saja, Mas," kata ibu.

Maka dibawalah ibu ke tukang pijit terdekat, di mana antrian berjejer sangat banyak. Tak sanggup menunggu lama, ayah usul untuk ke rumah bidan saja, yang hanya 30 meter dari rumah kami. Mereka tiba di rumahnya dalam lima menit. Tapi sayang sekali, karena saat itu masih suasana lebaran, ayah tak dapat menemui ibu bidan; ia keluar untuk silaturrahmi.

Ayah semakin risau melihat penderitaan ibu. Ia berusaha menelpon, tapi ponsel ibu bidan berada di rumahnya, tidak ia bawa. Sakit di perut ibu bertambah hebat, dan darah pun mengalir, dan ibu masih saja menunggu, selama hampir setengah jam, sampai bidan itu datang.

"Lho, kenapa ini? Mari masuk ke ruang perawatan," ia berkata saat menyaksikan ibu dan ayah kepanikan di rumahnya. Setelah memeriksa beberapa saat, ia menganjurkan agar ibu dibawa ke rumah sakit.

Ayah bingung untuk menyewa kendaraan. Tidak satupun mobil bisa dipakai, sampai pada akhirnya, ibu bidan menelpon ambulan.

Aku menendang-nendang dari dalam perut ibu. Aku mendengar sirine dan merasakan goncangan ambulan yang melaju menuju Rumah Sakit Umum Tuban.

Di rumah sakit, dibantu dokter dan suster, pada pukul 11 malam, saat ayah berada dalam puncak kecemasan, aku berhasil dilahirkan.

Dokter mengatakan kelahiranku adalah prematur, dengan berat 150gram. Aku dimasukkan inkubator. Tapi aku bahagia karena melihat ibu baik-baik saja.

Aku merasa keadaanku pun baik. Di sekelilingku, aku menyaksikan senyum bahagia dari ayah, ibu dan nenekku. Ayah melantunkan adzan dan iqomah di telingaku, dan mataku melirik kesana-kemari, dengan keingintahuan atas siapa sebenarnya semua orang ini yang begitu perhatian padaku.

Saat ayah keluar dari ruanganku, aku menangis kencang. Mungkin ayahku juga mendengar tangisanku. Itu adalah tangisan pertamaku, tangisan yang kuteriakkan ketika ibu tersenyum bangga padaku dalam pembaringannya.

Dan sambil aku menangis riuh di dalam, ayah menunggu terdiam diluar. Sampai terbit fajar.

BACA JUGA:

~ Minggu, 26 Agustus 2012 0 komentar